Satuan II Pelopor
Sejarah
LINTAS SEJARAH SATUAN II PELOPOR
DARI MASA KE MASA
- Awal Berdirinya Satuan Brimob ( Korps Baret Biru)
- Perubahan Mobile Brigade Menjadi Brigade Mobil Polri (Brimob Polri)
- Kilas Sejarah Brimob dI WIlayah Kedung Halang Bogor
- Batalyon IV Brimob Resimen Cakra Birawa
- Batalyon C / 32 Para Satama Brimob (Tahun 1966 – 1985)
- Satuan Brimob Pusat / Satbrimobpus (Tahun 1982 – 1996)
- Era masa Rresimen I Brimob (Tahun 1996 – 2002)
- Era SatuanII / Pelopor Korbrimob (Tahun 2002 – Sekarang)
AWAL BERDIRINYA SATUAN BRIMOB ( KORPS BARET BIRU )
Pasukan semi militer dan Militer serta polisi tugas khusus awal mulanya dibentuk oleh Jepang dengan tujuan untuk memenuhi kekurangan tenaga manusia untuk mendukung kepentingan perangnya. Kekurangan tenaga manusia ini diakibatkan karena kekalahan perangnya sejak awal tahun 1943 dengan situasi perang Pasifik yang mulai berubah. Kekalahan Jepang di tahun ini diantaranya kekalahan dalam pertempuran laut di sekitar Midway dan laut karang, jatuhnya kepulauan Saipan ke tangan Amerika serikat sehingga menimbulkan keresahan masyarakat Jepang serta hilangnya kapal-kapal angkut dan kapal perang Jepang seiring dengan terpukul mundurnya mereka dari Papua Nugini, Kepulauan Salomon dan Kepulauan Marshall.
Kekalahan-kekalahan ini membuat Jepang menjadi defensife, sehingga Jepang mulai lebih intensif mencari dukungan masyarakat Indonesia dengan mendidik dan melatih para pemuda Indonesia di bidang militer atau semi militer. Awal maret 1943 akhirnya diresmikan berd
irinya Seinendan atau Barisan Pemuda, Gakutotai atau Barisan pelajar, Keibodan atau Barisan Bantu Polisi, pembantu prajurit Jepang (Heiho) dan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Semua anggota barisan itu mendapat gemblengan patriotisme dan nasionalisme, latihan perang-perangan (Kyoren) dan baris berbaris. Latihan ini sangat besar arti
Pada Jaman pendudukan Jepang,
Kepolisian (Keisatsutai) mempunyai
pasukan polisi dengan tugas-tugas khusus, yang dinamai
Tokubetsu Keisatsu
Tai (Polisi Istimewa), dan setelah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia mereka
menjadi Polisi Istimewa (PI) atau Pasukan Polisi
Perjuangan (P-3) yang
dibentuk di tiap-tiap Karesidenan. Polisi Istimewa ini
merupakan satu-satunya
badan kepolisian bentukan Jepang yang tetap
diperkenankan untuk memegang
senjata, memainkan peranannya memperkuat Barisan
Perjuangan Rakyat
Indonesia menetang penjajahan. Polisi Inilah yang
kemudian merupakan cikal
bakal terbentuknya Mobrig atau yang sekarang dikenal
dengan nama Brigade
Mobil Polri (Brimob Polri).dan manfaatnya untuk melatih
kedisiplinan, kemauan yang
keras serta ketrampilan. Selain itu pelatih/guru
bangsa Indonesia yang melatih
juga memperkenalkan kebesaran tanah air Indonesia
dengan menggunakan
bahasa Melayu pada setiap pertemuan.
Brigade Mobil atau sering disingkat Brimob adalah unit (korps) tertua di dalam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) karena mengawali pembentukan kepolisian Indonesia di tahun 1945. Korps ini dikenal sebagai Korps Baret
Pada 14 November 1946 Perdana Menteri Sutan Sjahrir membentuk Mobile Brigade (Mobrig) sebagai ganti Pasukan Polisi Istimewa. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru. Pembentukan Mobrig ini dimaksudkan Sjahrir sebagai perangkat politik untuk menghadapi tekanan politik dari tentara dan sebagai pelindung terhadap kudeta yang melibatkansatuan-satuan militer. Di kemudian hari korps ini menjadi rebutan antara pihak polisi dan militer.Biru. Brimob pertama kali terbentuk dengan nama Pasukan Polisi Istimewa. Kesatuan ini pada mulanya diberikan tugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, melindungi kepala negara, dan mempertahankan ibukota. Brimob turut berjuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Pada 1 Agustus 1947, Mobrig dijadikan satuan militer. Dalam kapasitasnya ini, Mobrig terlibat dalam menghadapi berbagai gejolak di dalam negeri. Pada tahun 1948, di bawah pimpinan Moehammad Jasin dan Inspektur Polisi II Imam Bachri bersama pasukan TNI berhasil menumpas pelaku Peristiwa Madiun di Madiun dan Blitar Selatan dalam Operasi Trisula. Mobrig juga dikerahkan dalam menghadapi gerakan separatis DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo dan di Sulawesi Selatan dan Aceh yang dipimpin oleh Kahar Muzakar dan Daud Beureuh.u.
Pada awal tahun 1950 pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling menyerbu kota Bandung. Untuk menghadapinya, empat kompi Mobrig gabungan dari jawa timur dan Jawa Barat dikirim untuk menumpasnya yang kemudian diorganikkan. Mobrig bersama pasukan TNI juga dikerahkan pada April 1950 ketika Andi Azis beserta pengikutnya dinyatakan sebagai pemberontak di Sulawesi Selatan. Kemudian ketika Dr. Soumokil memproklamirkan berdirinya RMS pada 23 April 1950, kompi-kompi tempur Mobrig kembali ditugasi menumpasnya.
Pada tahun 1953, Mobrig juga dikerahkan di Kalimantan Selatan untuk memadamkan pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diumumkan pada 15 Februari 1958 dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai tokohnya, pemerintah pusat menggelar Operasi Tegas, Operasi Saptamarga dan Operasi 17 Agustus dengan mengerahkan Mobrig dan melalui pasukan-pasukan tempurnya yang lain. Batalyon Mobrig bersama pasukan-pasukan TNI berhasil mengatasi gerakan koreksi PRRI di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Timur, Riau dan Bengkulu. Dalam Operasi Mena pada 11 Maret 1958 beberapa kompi tempur Mobrig melakukan serangan ke kubu-kubu pertahanan Permesta di Sulawesi Tengah dan Maluku.
PERUBAHAN MOBILE BRIGADE MENJADI BRIGADE MOBIL POLRI (BRIMOB POLRI)
Sesuai dengan perkembangan keadaan, maka pada saat peringatan HUT Brimob tanggal 14 Nopember 1961, sebutan Korps Mobile Brigade telah diganti sendiri oleh Presiden Soekarno selaku Kepala Negara dengan sebutan Korps Brigade Mobil (disesuaikan dengan istilah bahasa Indonesia yang baku dan benar berdasarkan hukum DM).
Dan pada saat itu pula Korps Brigade Mobil Polri mendapatkan penghargaan “Nugraha Sakanti Jana Utama” berdasarkan bahwa Korps Brimob dalam jangka waktu 15 tahun sejak didirikannya tanggal 14 nopember 1946 dengan penuh kewaspadaan telah berbakti dan berdarma guna kepentingan tugas kepolisian sehingga sebagai kesatuan yang terpercaya patut menjadi tauladan yang dapat memajukan sifat-sifat kepolisian sejati (Surat Keputusan Presiden RI No. 591 tahun 1961). Dengan penghargaan ini Korps Brigade Mobil adalah satu-satunya kesatuan yang pertama mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Brimob pernah terlibat dalam beberapa peristiwa penting seperti peristiwa Trikora Brimob mempesiapkan sejumlah Resimen Tim Pertempuran (RTP) di pulau-pulau di Provinsi Maluku yang terdekat dengan Irian Barat sebagai respon atas perintah Presiden Soekarno untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Perintah Bung Karno itu dikenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora).
Satu tim Brimob pimpinan Hudaya Sumarya berhasil mendarat di Fak- Fak Irian Barat menggunakan sebuah speedboat. Dari Fak-Fak pasukan ini menusuk masuk ke pedalaman Irian Barat untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Dalam operasi ini mereka berhasil melakukan infiltrasi, sabotase terhadap instalasi tentara Belanda. Bahkan mereka juga berhasil membebaskan beberapa anggota RPKAD dan PGT yang ditangkap musuh ketika diterjunkan di daratan Irian Barat. Konfrontasi dengan Malaysia tahun 1963 dan aneksasi Timor Timur tahun 1975.
Pada pembebasan Timor Timur tahun 1975 Brimob membentuk satu detasemen khusus untuk bergabung dalam Operasi Seroja, gabungan dengan pasukan ABRI lainnya.
Pada pembebasan Timor Timur tahun 1975 Brimob membentuk satu detasemen khusus untuk bergabung dalam Operasi Seroja, gabungan dengan pasukan ABRI lainnya.
Densus Alap-alap bertugas sebagai pasukan pendahulu (pengintai) sekaligus penghancur pertahanan Fretilin di garis depan bersama Kopassus. Densus Alap-alap ini dibagi dalam tim-tim kecil yang merupakan tim gabungan TNI/Polri.
Personil Densus Alap-alap terdiri dari mantan anggota Menpor (Resimen Pelopor). Resimen Pelopor merupakan kesatuan khusus Brimob, yang berkualifikasi Ranger. Resimen ini dibubarkan tahun 1974 setelah ikut malang melintang dalam beberapa operasi pertempuran, di antaranya dalam Operasi Trikora di Irian Barat dan Dwikora atau yang lebih dikenal dengan operasi Ganyang Malaysia. Keterlibatan Densus Alap-alap ini tidak pernah diekspose secara terbuka ke media massa maupun dalam laporan resmi. Personelnya disusupkan ke dalam Batalyon-Batalyon Infanteri TNI-AD ketika pemberangkatan ke Timor-Timur. Di antarannya disusupkan dalam Batalyon Infanteri dari Kodam Brawijaya pimpinan Letkol Inf. Basofi Sudirman.
KILAS SEJARAH BRIMOB DI WILAYAH KEDUNG HALANG BOGOR
Pada tahun 1964 dibentuk Resimen
Cakrabirawa yang merupakan
resimen pasukan gabungan dari TNI Angkatan Darat,
Angkatan Laut, Angkatan
Udara dan Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas
khusus menjaga
keamanan Presiden RI pada zaman pemerintahan Soekarno.
Komandan
Resimen Cakrabirawa pada saat itu adalah Brigadir
Jenderal Moh. Sabur.
Batalyon IV Resimen Cakra Birawa yang merupakan
validasi dari Yon 1129
yang personelnya diambil dari seleksi seluruh Mobrig
di Indonesia. Markas
Komando Resimen Cakra Birawa pertama berada di
Ksatrian Kala Hitam
Petamburan Jakarta dan pada awal tahun 1965 markas
komando Batalyon
Cakra Birawa dipindahkan ke Sukasari Bogor. Satuan
Mobrig (Mobil Brigade)
terdiri dari satu Batalyon dibawah pimpinan Komandan
Batalyon Kolonel
M.Satoto dengan tugas pokok penjaga Istana
Kepresidenan baik yang berada
di Bali, Jakarta
dan Cipanas serta dua Detasemen Khusus Kawal Pribadi dan Kawal Kehormatan dengan tugas pokok sebagai pengawal pribadi dan keluarga Presiden dibawah pimpinan Kapten Sadiman dan Kapten Sumiran. Pada perjalanan tugasnya Resimen Cakra Birawa hanya bertahan selama 2 tahun,
sekitar ahkir tahun 1965 Resimen Cakra Birawa di likuidasi dikarenakan terjadinya peristiwa gerakan Pada masa setelah peristiwa G-30-S/PKI, Brimob tetap netral. Hal ini membingungkan banyak pihak, karena pada September 1965 Brimob adalah unsur yang sangat dekat dengan Amerika. Karena sikap ini, sebagian pengamat menganggap Brimob sebagai unsur yang setia kepada Presiden Soekarno.
Dan pada saat pelaksanaan HUT Korps Brimob Polri yang ke –XIX (Sembilan Belas) tahun 1965, Presiden Soekarno dalam sambutannya juga mengakui akan peran serta Satuan Brimob Polri dalammenghadapai peristiwa “Gerakan 30 September/PKI”. G 30 S/PKI pada bulan September 1965. Dan dikarenakan adanya keterlibatan dari beberapa oknum Angkatan yang berada dibawah Resimen Cakra Birawa. Setelah dilikuidasi satuan - satuan dibawah resimen Cakra Birawa dikembalikan pada kesatuan induk masing-masing tak terkecuali Mobrig.
BATALYON C/32 PARA SATAMA BRIMOB (TAHUN 1966 – 1985 )
Dengan dibubarkannya Resimen Cakra Birawa maka Batalyon IV Cakra Birawa berganti nama menjadi Batalyon Cadangan 32 / Para Satama Brimob dibawah pimpinan Kolonel M. Satoto yang kemudian beralih kepada Letnan Kolonel Peter Sambo, Letnan Kolonel Mandaki dan yang terahkir satuan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Yono Saputro. Satuan ini bertugas sebagai satuan tempur pelaksana utama Mobrig, pemilihan Batalyon Cadangan / 32 Para Satama Brimob sebagai satuan tempur utama dikarenakan kemampuan terjun personel yang mumpuni dan satuan yang dilengkapi dengan persenjataan cukup lengkap maka satuan ini bertugas menangani keamanan dalam negeri seperti operasi penumpasan PKI dibeberapa daerah di pulau jawa. Selain itu juga kesatuan ini mejadi pusat latihan spesialisasi terjun dan Para Komando, Pelatihan SAR Nasional
Markas Komando Batalyon C / 32 Para berada di pangkalan Brimob Sukasari Bogor dan Kompi A, B, C berada di Kedunghalang. dalam perjalanan sejarahnya Batalyon C / 32 Para Satama Brimob Polri ini pun telah mengalami beberapa kali perubahan status nama kesatuan. Dan pada tahun 1981 Kesatuan ini kembali dilikuidasi menjadi beberapa kompi diantaranya Kompi mantap 519, kompi 5136, kompi 5141,kompi 5147 dan kompi 5379 dibawah kendali Komapta ( komando Samapta) Polri yang selanjutnya disebut Ditsamapta Polri.
SATUAN BRIMOB PUSAT / SATBRIMOBPUS (TAHUN 1982 – 1996 )
Akibat dari kondisi politik pada ahkir tahun 1982 kompi –kompi dijajaran Komapta Polri dikumpulkan dalam satu wadah dengan nama Brimob Pusat. Brimob Pusat Polri sebagai satuan yang semula bernama Satuan Brimob Pusat disingkat Satbrimobpus yang berkedukan di Kesatrian Amji Atak Kelapadua didirikan pada tanggal 16 Oktober 1985, membawahi 5 Kompi yang terdiri dari Kompi 519, Kompi 5141 dan Kompi 5379 yang berkedudukan di Kesatrian Ks. Tubun Kedunghalang Bogor, Kompi 5136 berkedudukan di Kesatrian ABRI Sukasari Bogor dan Kompi 5147 di Blok A Pasar Minggu dan kemudian pindah ke Kedaung Ciputat Tangerang.
Sebagai Komandan Satbrimobpus pertama kali adalah Letkol Pol Drs. Alex Tumbol (1982-1985) kemudian beralih kepada beberapa pamen brimob Polri diantara Letkol Pol. Drs. Merdekansyah (1985-1989), Letkol Pol. Ridhwan Karim (1989-1990), Letkol Pol. Medy Chumady (1990-1995), Letkol Pol. Drs. Gunarjo (1995-1997). Dengan pertimbangan Markas Komando yang kurang memadai dan terlalu jauh dari Kompi-kompi jajarannya, maka pada tahun 1987 Mako Satbrimobpus pindah ke Sukasari Bogor sampai dengan tahun 1990, dan selanjutnya bermarkas di Kesatrian Brimob Ks. Tubun Kedunghalang Bogor.
Satuan Brimob Pusat juga aktif bersama TNI terlibat dalam beberapa penugasan penting seperti operasi seroja di Timor-Timur pada tahun 1985, operasi Jaring Merah di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Operasi kemanusian pengungsi Vietnam di Pulau Galang, operasi ilegal logging, Paspampres, Satuan Pengamanan dan Pengawalan Mabes ABRI dan sebagainya. Untuk operasi berskala Internasional Satbrimobpus juga turut aktif dalam Kontingen Garuda I, Kontingen Garuda II dan Kontingen Garuda III di Kamboja.
ERA MASA RESIMEN I BRIMOB (TAHUN 1996 – 2002 )
Pada tahun 1996 dengan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/10/IX/1996 tanggal 16 September 1996 tentang Validasi Korps Brimob Polri, Satbrimobpus berubah namanya menjadi Resimen I Brimob membawahi 4 Batalyon terdiri dari Batalyon A, B, C dan D dan masing-masing Batalyon membawahi 4 Kompi Pasukan 1 Kompi Bantuan. Resimen I Brimob yang disingkat Men I Brimob adalah satuan pelaksana pada Korbrimob, yang bertugas membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk melaksanakan tugas Korbrimob, guna menjamin terwujudnya totalitas kekuatan operasional Korbrimob, utamanya untuk menanggulangi kerusuhan massa. Dan berdasarkan surat perintah Dankorbrimob No. Pol :Sprin / 12 / II / 1997 tanggal 19 Pebruari 1997 tentang pengukuhan Resimen I Brimob. Resimen I Brimob bermarkas di Kedunghalang Bogor Dengan kekuatan personel pada saat itu berjumlah 2.939 orang dan Tongkat komando Resimen I Brimob pertama kali dipegang oleh Kolonel Polisi Drs. Jacky Ully tahun 1997- 1997, selanjutnya diserah terimakan kepada Kolonel Polisi Nurudin Usman, Smik tahun 1997-1999, selanjutnya diserah terimakan kepada Kolonel Polisi Drs. Edi Sunarno tahun 1999-2000, dan terahkir dijabat oleh Kolonel Polisi Drs. Suyitno tahun 2000-2002. Dislokasi Satuan Mako Men I Brimob (213 Pers), Yon A Men I Brimob (826 Pers) dibawah pimpinan Danyon Mayor Pol. Drs. Hasanuddin dan Wadanyon Mayor Pol Drs. Priyo Mujihat dan Yon C Men I Brimob (608 Pers) dibawah pimpinan Mayor Pol. Drs. Prapto dan Wadanyon Mayor Pol. Drs Anang Revandoko bermarkaskan di Kedunghalang, sementara Yon B Men I (763 Pers) dibawah pimpinan Danyon Letkol Pol. Drs. Saput dan Wadanyon Mayor Pol. Drs. Rahman Baso dan Yon D Men I Brimob (529 Pers) dibawah pimpinan Wadanyon Mayor Pol. Drs. Bobyanto Ior Adoe berada di Kelapadua.
Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia, disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organisasi aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 21 September 1998. Pada masa transisi jatuhnya orde baru dan lahirnya Reformasi Resimen I Brimob mengambil peran yang sangatlah besar dalam mempertahankan dan mengawal kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia diantaranya meredam kerusuhan massa di Jakarta dengan menurunkan seluruh kekuatan PHH yang tergabung dalam satgas PPRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa ) Alfa dan Bravo. Dan pada 23 April 1999 Satgas PPRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa ) Bravo dengan kekuatan 431Personel dibawah pimpinan Wadanmen I Brimob Letkol Pol Drs. Johni Waenal Usman ditugaskan untuk memulihkan ketertiban masyarakat karena konflik antar etnik di Kalimatan Barat, selain itu juga anggota yang masih berada di pangkalan Bogor melaksanakan konsolidasi dalam rangka memback up keamanan di Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Pada pertengahan tahun 1999 tepatnya tanggal 15 Juli 1999 kembali Resimen I Brimob ditugaskan 904 personel atau setara dengan 8 SSK ke Propinsi Timor-Timur (sekarang Timor Leste) untuk mengamankan Referedum / jejak pendapat yang dipimpin oleh Kapten Polisi Drs. Anang Revandoko. Dengan menangnya barisan pro kemerdekaan dan kalahnya barisan pro integrasi selanjutnya memicu kerusuhan besar - besaran di wilayah Timor-Timur menyikapi hal tersebut Polri kembali memberangkatkan 208 Pers atau setara 2 SSK pimpinan Lettu Pol. Nurbagja untuk membantu evakuasi pengungsi di Timor Leste dengan sandi operasi Lorosae. Sementara itu di ujung barat propinsi Indonesia Aceh kembali bergejolak menuntut Referedum, untuk itu Polri Pada tanggal 26 Juli 1999 memberangkatkan 155 Pers atau 1 SSK Men I Brimob dibawah pimpinan Kapten Pol Drs. Komaruddin untuk melaksanakan olak tugas Opslihkam BKO Polda Aceh pasca dicabutnya Darurat militer di Propinsi Aceh. Dan seterusnya secara bergiliran dimulai dari operasi Sadar Rencong I tanggal 23 Nopember sampai dengan Cinta Maunasah dan Aceh Mission Monitoring (AMM). Selain itu pada pertengahan Nopember 2001 Resimen I Brimob ditugaskan di Maluku (Ambon) untuk melaksanakan operasi Mutiara dengan tugas pemulihan keamanan akibat konflik agama, dilain pihak Men I Brimob juga melaksanakan Ops Wanalaga di Kalimatan Barat dan masih banyak lagi penugasan - penugasan yang diemban oleh Men I Brimob yang tidak dapat di ekpose satu persatu dalam buku ini.
Hingga pada ahkir tahun 2002 Resimen I Brimob berganti nama menjadi Satuan II Pelopor Korbrimob.
ERA SATUAN II / PELOPOR KORBRIMOB (TAHUN 2002 – Sekarang)
Di masa Reformasi masyarakat Indonesia menuntut organisasi Polri dipisahkan dari ABRI, masyarakat berpendapat bahwa Polri selama ini masih sebagai alat kekuasaan dari pemerintah atau pejabat yang berkuasa. Reformasi pada organisasi Polri telah dilakukan sejak tahun 1999 yang lebih dikenal dengan Reformasi Polri yang terdiri dari reformasi pada aspek Instrumental, Aspek Struktural dan Aspek Kultural. Keberhasilan utama dari program tersebut adalah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mengatur tugas pokok, fungsi dan peranan Polri dan menetapkan bahwa organisasi Polri tidak lagi menyatu dengan ABRI.
Demikian halnya Korp Brimob beserta jajarannya melakukan reformasi menyeluruh, Struktur organisasi Resimen I Brimob yang lebih identik dengan struktur organisasi ditubuh ABRI berdasarkan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/53/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002, berubah namanya menjadi Satuan II / Pelopor, membawahi 4 Detasemen terdiri dari Detasemen A, B, C dan D dan masing-masing Detasemen membawahi 5 Kompi. Kepala Satuan II Pelopor pertama kali dijabat oleh Komisaris Besar Polisi Drs. Winarso tahun 2002-2003 kemudian diserahkan berturut pada Komisaris Besar Polisi Drs. Syarief Gunawan tahun 2003-2006, Komisaris Besar Polisi Syaiful Bachri tahun 2006-2009 .D, SH, Komisaris Besar Polisi Drs. Hariyanto, SH, M.Hum tahun 2009-2010 dan saat ini Kasat II Pelopor dijabat oleh Komisaris Besar Polisi Drs. Anang Revandoko. Sejak terbentuknya Resimen I Brimob sampai dengan berubah namanya menjadi Satuan II / Pelopor, keberhasilan tugas yang telah dicapai dalam turut menjaga stabilitas keamanan dalam negeri dari gangguan kelompok Sparatis yang ingin menjatuhkan kewibawaan pemerintah utamanya di daerah konflik seperti Aceh, Ambon dan Papua serta pertentangan etnis di Kalbar, Kalteng dan Poso, penanggulangan unjuk rasa / kerusuhan massal di Jakarta dan sekitarnya menjadi jaminan pimpinan Polri khususnya Korps Brimob untuk mempercayakan setiap tugas mengatasi gangguan Kamtibmas yang berintensitas tinggi kepada Satuan II / Pelopor.
Dalam paradigma baru Korbrimob Polri merupakan senjata pamungkas Polri guna menanggulangi gangguan Kamtibmas dengan intensitas tinggi yang dilandasi dengan motto pengabdian “ Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan “ Satuan II / Pelopor senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan secara professional dan proposional baik kemampuan perorangan, kemampuan kesatuan serta kemampuan operasional dengan motto “ Tiada Hari Tanpa Latihan “ dan dilandasi semboyan “ Kehormatan diatas segala-galanya“ dengan tetap memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku, sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa Satuan II / Pelopor adalah bagian integral dari Polri yang bertugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta penegak hukum yang mahir dan terpuji.
- Awal Berdirinya Satuan Brimob ( Korps Baret Biru)
- Perubahan Mobile Brigade Menjadi Brigade Mobil Polri (Brimob Polri)
- Kilas Sejarah Brimob dI WIlayah Kedung Halang Bogor
- Batalyon IV Brimob Resimen Cakra Birawa
- Batalyon C / 32 Para Satama Brimob (Tahun 1966 – 1985)
- Satuan Brimob Pusat / Satbrimobpus (Tahun 1982 – 1996)
- Era masa Rresimen I Brimob (Tahun 1996 – 2002)
- Era SatuanII / Pelopor Korbrimob (Tahun 2002 – Sekarang)

- AWAL BERDIRINYA SATUAN BRIMOB ( KORPS BARET BIRU )
- LOGO LOGO , BREVET







Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 20897
Hits hari ini : 3
Total Hits : 62552
Pengunjung Online: 1


